Membidik Leviathan Baru --
4 tahun UNISOSDEM Jakarta Melintasi Sejarah
17 Agustus 1998 - 17 Agustus 2002
 

Anthony Giddens (1979) mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah unsur konstitutif dari berbagai praktik sosial. Manusia adalah pelintas ruang dan waktu. Pertama dengan teknologi, ruang dimampatkan dan waktu diperpendek. Kemudian, dengan kedigdayaan nyaris-tak-tersentuh, hak milik pribadi dilepaskan dari tanggung jawab sosial. Dan kapital pun melintasi ruang dan waktu dengan volume dan kecepatan yang tak terbayangkan. Di satu sisi ia menawarkan segala kenikmatan dan kenyamanan yang bersifat ontologis, yang tidak dinikmati kakek-nenek moyang kita -handphone, internet, transportasi, komunikasi, listrik, dll. Tetapi di sisi lain, berbagai ancaman hidup yang sebelumnya tak pernah terbayangkan ada, juga makin jelas mengintai dan sudah menerkam -meledaknya reaktor nuklir, file yang hilang di harddisk, rusaknya lingkungan hidup, pemanasan global, HIV/AIDS, dll. Sebuah juggernaut -truk raksasa yang berlari sangat kencang tanpa bisa dihentikan- kita semua ada di dalamnya, menikmati segala kenyamanan itu, tetapi nyaris tak punya kuasa untuk menghentikan lajunya yang mungkin saja akan menabrak sesuatu dan menghancurkan semua yang ada di dalamnya. Itulah gambaran dunia dimana kita hidup saat ini. Dunia yang berlari tunggang langgang. A Runaway World, demikian Giddens (1992) kembali mengatakannya.

***

17 Agustus 1998 Uni Sosial Demokrat (UNISOSDEM) Jakarta berdiri. Dirintis dan ditopang oleh semangat muda dari para pendirinya yang mendapatkan dukungan penuh seorang aktivis kawakan, Bambang Warih Koesoema. Cita-cita UNISOSDEM Jakarta dirumuskan dengan jelas: tatanan hidup bersama di kepulauan Nusantara yang lebih berkeadilan. Bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada alam. "Manusia tidak hanya harus berbagi hidup dengan 5 milyar penduduk bumi lainnya, tetapi juga dengan 50 juta spesies yang bersama-sama meninggali bumi", itu semangatnya.

Namun, nampaknya tata-hidup bersama itu memang paradoksal. Di satu sisi, ia jauh bagaikan sebuah cita-cita. Namun, ia toh juga sebenarnya sudah mengada. Namun justru di sini soalnya: tata-hidup bersama macam apa yang kini ada dan dihidupi?

Nampaknya ada banyak keruwetan yang dijumpai ketika berupaya mengurai soal hidup-bersama ini. Apakah perkaranya kebijakan politik? Pembangunan Ekonomi? Persoalan Budaya-Mental? Jawaban-jawaban yang diberikan acapkali lebih banyak membawa kebingungan baru daripada menjelaskan. Sementara, di satu sisi data-data ketidakadilan semakin bertumpuk, list korban bertambah panjang, ledak-tangis yang terpinggirkan makin tak berkesudahan. Di sisi lain, berbagai pelatihan analisis sosial, lokakarya, training, seminar, bahkan membangun jaringan antar NGO, dll yang juga banyak diupayakan, seolah tak kunjung memberi hasil yang konkrit.

Apa yang salah? Itulah yang mulai hendak diurai dalam dinamika di UNISOSDEM Jakarta.

Sejak berdirinya, berbagai tulisan telah dirilis, upaya lobby dengan pengambil keputusan dilakukan, pelatihan dilaksanakan dan jaringan dengan berbagai NGO pun dilibati. Bahkan UNISOSDEM Jakarta mencoba menjejak eksistensi di dunia cyber dengan melaunch website ini pada tahun 2000 sebagai penyeranta arsip dan informasi bagi sejawat aktivis. Tapi nampaknya belum semuanya terasa optimal. Bagai kecemplung dalam kubangan berisi ribuan data dan informasi tentang berbagai hal, tangannya menggapai-gapai, megap-megap, minta untuk dimaknai.

***

Setelah sejenak berefleksi, dibantu dengan sepenuh-hati oleh B. Herry-Priyono, Ph.D., UNISOSDEM Jakarta mulai bisa memahami, bahwa apa yang nampaknya luput dari wacana --dan karenanya juga berakibat pada luputnya praksis-- adalah perkara adanya kekuasaan dalam tata-hidup bersama ini. Bukan adanya kekuasaan itu yang menjadi soal, melainkan praktik kekuasaan itu yang punya implikasi pada hidup bersama kita.

Kalau dulu (dan bahkan sampai sekarang) kita selalu merujuk pada negara sebagai pemegang kekuasaan, hal itu bukanlah salah. Namun, tidak lengkap. Negara bukanlah satu-satunya pemegang kekuasaan dalam hidup bersama kita saat ini. Ada yang lain, yaitu kekuasaan kelompok-kelompok dalam masyarakat (komunitas) yang tak tersentuh oleh kekuasaan negara. Dan jangan lupa, kekuasaan modal dan bisnis. Yang terakhir inilah yang justru meruap-menyeruak secara luar biasa. Komunitas dilibas dan digilas. Bahkan negara juga dicengkeram dan diambil alih oleh besarnya kekuasaan modal. Jika dulu Thomas Hobbes menyebut negara sebagai Leviathan karena demikian kuatnya bagai monster, B. Herry-Priyono menegaskannya bahwa kekuasaan modal saat ini adalah Leviathan Baru (Kompas 3 Januari 2002, The Jakarta Post 25 January 2002).

Maka, UNISOSDEM Jakarta mencoba tanggap dengan wacana ini. Sebuah proses yang tidak mudah memang. Apalagi dengan konstruksi pikir yang sudah demikian dibentuk oleh para proponen dari Neo-Liberal yang selalu menghadapkan "politik vs ekonomi", "publik vs privat", bahkan lebih umum lagi "pro vs anti". Itulah mengapa misalnya persoalan menghadapi globalisasi, bagi UNISOSDEM Jakarta, bukanlah perkara menolak atau menerimanya. Melainkan, bagaimana menjadi peka dan tanggap akan dinamika praktik kekuasaan dalam globalisasi itu sendiri. Dan kami akui, ini bukanlah soal sederhana.

Menyederhanakannya demi praksis lapangan, UNISOSDEM Jakarta menghembuskan dan menggencarkan apa yang disebut dengan "Paradigma Baru Demokratisasi & Pemberdayaan Masyarakat Sipil". Apanya yang baru? Satu, bahwa demokrasi itu bukan hanya perkara membuat akuntabelnya kekuasaan negara, tetapi juga berbagai kekuasaan yang lain --saat ini: kekuasaan modal dan bisnis. Dua, bahwa masyarakat sipil bukanlah sebuah tesis anti-negara, melainkan tesis anti-praktik kekuasaan yang tidak akuntabel: termasuk kekuasaan negara, komunitas dan bisnis.

Apa yang sudah di kerjakan UNISOSDEM Jakarta?
a. Dalam 10 (sepuluh) bulan terakhir ini, sejak Tawangmangu Jawa Tengah 25-27 Nopember 2002 hingga Sanur Bali 12-14 Juli 2002, UNISOSDEM Jakarta (dan beberapa kali dibantu oleh UNISOSDEM Solo) sudah mengorganisir sejumlah semi-loka di berbagai daerah yang diikuti oleh sejawat aktivis dari ujung barat Pulau Jawa higga propinsi Nusa Tenggara Timur. Seluruhnya ada 70 (tujuhpuluh) kelompok mengirimkan wakilnya untuk berpartisipasi dalam lokakarya dan merintis jaringan kerjasama. Semi-loka ini berfokus pada upaya menyebarkan gagasan "baru" di atas dan mencari kemungkinan kerjasama membidik Leviathan Baru itu. Sebuah Yayasan Jerman, FES (Friedrich-Ebert Stiftung) ikut mendanai sebagian kegiatan semi-loka ini.

b. Memberikan pengaruh kepada para pengambil keputusan di bidang eksekutif, yudikatif dan legislatif mengenai berbagai kebijakan di bidang sosial-ekonomi-politik. Pengaruh ini diberikan melalui lobby, siaran pers, kuliah publik dan media masa. Pada bulan Juli 2002, UNISOSDEM Jakarta memberikan pokok-pokok pikiran mengenai Format Baru Politik Indonesia di Gedung DPR/MPR RI.

c. Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dalam jaringan dengan NGO lain di dalam negeri maupun luar negeri. Kegiatan internasional terakhir adalah berpartisipasi dalam PrepComIV di Bali Mei-Juni 2002 yang lalu dan Asia-Pacific Network di Jakarta 22-24 Juli 2002.

d. Meneruskan dan mengembangkan website, www.unisosdem.org yang kini sedang Anda kunjungi untuk tiga fungsi dasar: Pertama, membangun database. Ada cukup banyak dan beragam data yang ada dalam dokumentasi UNISOSDEM Jakarta yang bisa diakses secara on-line di website ini. Namun masih ada banyak lainnya yang berupa hard-copy yang tersedia di kantor/sekretariat UNISOSDEM Jakarta. Menjadikan semuanya on-line adalah keinginan kami, namun kami harus realistis dengan konstelasi sumber daya yang ada pada kami. Kedua, membangun searchable-archiving system dalam website ini. Situs baru UNISOSDEM Jakarta ini adalah situs berbasis database-engine yang memungkinkan semua pengunjung situs melakukan pencarian berbagai artikel yang dikliping oleh UNISOSDEM Jakarta dari berbagai sumber (majalah, koran, jurnal, dll). Ketiga, membangun reporting-system. UNISOSDEM Jakarta ingin menunjukkan bahwa transparansi dalam konteks 'good governance' di NGO itu mungkin dan bahkan harus dilakukan. Meskipun NGO tidak mendapatkan uang dari rakyat, namun NGO perlu mempertanggungjawabkan aktivitasnya bukan hanya pada donatur, melainkan juga stake-holder utamanya, yaitu rakyat. Seluruh laporan kegiatan UNISOSDEM Jakarta, termasuk laporan keuangan, bisa dilihat dan diakses oleh semua pengunjung website ini.

Apa yang akan dikerjakan dalam waktu-waktu mendatang?

a. Meneruskan rangkaian semi-loka yang sudah dimulai sejak Nopember 2001 tersebut di atas. UNISOSDEM Jakarta mengagendakan untuk menyelenggarakan semi-loka di beberapa daerah seperti di Sumatera (Medan), Kalimantan (Pontianak), Irian Jaya (Nabire, Jayapura), Flores (Ende).

b. Memaintain jaringan NGO yang sudah berpartisipasi dalam seluruh rangkaian semi-loka. Secara konkrit UNISOSDEM Jakarta bersama-sama dengan Yayasan SAMADI Solo memprakarsai berdirinya Business Watch Indonesia yang berkedudukan di kota Solo, Jawa Tengah. UNISOSDEM Jakarta mendukung penuh kegiatan BWI dan mempromosikannya ke Jaringan Internasional yang dipunyai UNISOSDEM Jakarta. BWI saat ini setidaknya bergerak atas dukungan penuh dari UNISOSDEM Solo, SAMADI Solo, PUSDAKOTA Surabaya.

c. Tetap turut mempengaruhi kebijakan publik di bidang yudikatif, eksekutif dan legislatif melalui lobby dan diseminasi pikiran dan gagasan. Publikasi poluler juga dilakukan melalui media massa umum maupun terbatas.

d. Mengorganisir pelatihan politik dasar bagi aktivis-aktivis muda (18-27 tahun) di P. Jawa (dan semoga: luar Jawa!) yang basis aktivitasnya ada di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogya, Solo, Surabaya dan Malang.

e. Berpartisipasi dalam kegiatan bersama NGO lain di dalam dan di luar negeri. Kegiatan dalam jaringan NGO dalam negeri terutama dalam jaringan yang diorganisir oleh Institute for Global Justice (IGJ) dan INFID. Sedangkan kegiatan di luar negeri yang terdekat adalah Lokakarya mengenai Women & Politics di Thailand pada bulan September 2002 dan menjadi observer dalam pembicaraan mengenai bantuan Pemerintah Uni Eropa ke Indonesia di Copenhagen, juga pada September 2002.

f. Mengupdate arsip, database dan informasi yang ada dalam website. Website ini diupgrade secara resmi dan diluncurkan pada hari ini, 17 Agustus 2002, untuk merayakan Ulang Tahun UNISOSDEM Jakarta. Ucapan terimakasih tulus UNISOSDEM Jakarta pada Tim ELS yang membuat upgrading ini menjadi mungkin.

***

Empat tahun bukanlah usia yang muda lagi bagi sebuah organisasi swadaya. Karenanya, empat tahun pengalaman dalam jatuh-bangun bergelimang dalam problema organisasional adalah modal untuk bergerak lebih cermat, cerdik dan lincah. Dalam segala keterbatasannya, UNISOSDEM Jakarta yang kini berusia 4 tahun harus berbenah diri. Bukan hanya secara teknis-administratif, melainkan dalam menentukan arah.

Dan meski berat dan tidak mudah, arah itu sudah dicanangkan. Secara mendasar, arah itu adalah mengenali berbagai pusat dan kausalitas kekuasan yang ada dalam tata-hidup bersama masyarakat kita. Dan dalam kontingensi sejarah saat ini, pilihan kami adalah membidik Leviathan Baru itu.

Selamat untuk Ulang Tahun ke-4 UNISOSDEM Jakarta,

Selamat untuk kita semuanya.

Salam Demokrasi

Yanuar Nugroho

Sekretaris Jenderal

Lainnya:
"NEGARA, KEKUASAAN & DEMOKRASI"
GLOBALISASI – OTONOMI DAERAH : “TANTANGAN AFTA 2003 DAN PEMILU 2004”
4 tahun UNISOSDEM Jakarta Melintasi Sejarah
17 Agustus 1998 - 17 Agustus 2002
Format Baru Negara Indonesia Yang Demokratis
Moratorium of National Politics
Pernyataan Bersama Mengutuk Pembakaran Buku
Surat Kepada Wakil Presiden RI
Surat Kepada Presiden Dan Wakil Presiden RI
Surat Kepada Ketua MPR-RI
Hentikan Penjualan Aset-Aset Perkebunan Kelapa Sawit Melalui BPPN Kepada Malaysia
Menyikapi Potensi Disintegrasi Bangsa
Masih Adakah Harapan Bagi Kaum Miskin dari Pemerintah Megawati?
Moratorium Politik Nasional
   
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail