Soedjati Djiwandono

 

Akrobat Politik Amien Rais

 
Oleh: Soedjati Djiwandono


IBARAT main bola, MPR kemarin kalah 2-1 di kandang sendiri. Presiden Habibie praktis dua kali menyampaikan pidato pertanggungjawaban, sebaliknya wakil rakyat hanya diberi kesempatan satu kali menanggapinya. Kemarin, hanya Presiden yang ngomong. Wakil rakyat tidak boleh interupsi selagi Presiden berpidato, juga tidak diberi kesempatan menanggapi setelah pidato usai, karena waktu habis untuk sang presiden. Semua itu menimpa MPR, dibawah kepemimpinan tokoh reformis Amien Rais. Padahal, itu forum milik wakil rakyat. Yaitu, forum untuk mempertanyakan, bahkan menguji kinerja presiden. Karena itu, seharusnya lebih banyak kesempatan diberikan kepada wakil rakyat untuk menyoal, daripada tangkisan presiden. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Forum berubah menjadi forum Habibie. Forum monolog, sementara wakil 210 juta rakyat merupakan pendengar yang bisu. Dibisukan oleh sang ketua, yang notabene tokoh reformis.

Preseden yang buruk, karena tidak mengindahkan asas fairness. Buruk, karena hal itu menimbulkan syak wasangka bahwa Ketua Umum MPR Amien Rais telah bermain mata dengan Habibie.

Bermain mata, karena Amien Rais dengan sengaja memberikan kesempatan Habibie melakukan pembelaan. Padahal, pertanggungjawaban bukan pembelaan, bukan pledoi, bukan pula apologia. Soal tambah campur aduk, karena Habibie sangat berambisi menjadi presiden kembali, dan telah pula dicalonkan oleh Golkar. Pidato Habibie kemarin adalah juga kampanye terselubung seorang kandidat presiden. Ini yang kata orang di pinggir jalan

"mencuri di tikungan".

Semua itu mendorong perlunya melihat kembali sepak terjang seorang Amien Rais. Sebelum pemilihan umum ia bilang cuma ingin menjadi presiden. Setelah perolehan suara partai yang dipimpinnya kecil saja, ia menyatakan ingin menjadi oposisi. Nyatanya, menjadi Ketua MPR pun ia mau. Bahkan, ia berubah menjadi king maker, dengan manuvernya mencalonkan Gus Dur sebagai presiden. Sementara itu, sebagian anggota Poros Tengah yang dipimpinnya, mulai bermanuver menjadikan Nurcholish Madjid sebagai presiden alternatif. Padahal, Amien Rais sendiri belum pernah mencabut pernyataannya mendukung Gus Dur menjadi presiden.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR, Amien Rais pun turun mendekati mahasiswa yang berdemonstrasi. Dari atas mobil, ia mengajak 100 mahasiswa masuk ke Gedung MPR mendengarkan pidato pertanggung jawaban Habibie. Sebaliknya, ironisnya, wakil rakyat sendiri tidak diberi kesempatan berbicara. Amien Rais tangkas berbicara dengan demonstran, karena itu terkesan mencari popularitas, tetapi tidak tangkas membatasi waktu pidato Habibie, sehingga ada waktu untuk wakil rakyat bicara. Kiranya Amien Rais begitu tanggap untuk melindungi Habibie.

Akrobat politik, itulah yang tengah dilakukan Amien Rais. Bukan sembarang akrobat, sebab terjadi di panggung MPR yang akan memilih presiden. Karena itu, perlu dicermati, diwaspadai, dan diingatkan. Jangan-jangan, diperlukan pula kacamata paranormal untuk mengerti akrobat politik seperti ini.

Harian ini ingin mengingatkan, rakyat boleh berteriak, boleh punya harapan, tetapi bersiap-siaplah kehilangan harapan dengan MPR dan kepemimpinan MPR yang sekarang. (saur)


 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail