Herry Priyono

 

FSD Menyangga Dunia

 
Oleh: B Herry-Priyono


DI bulan Desember 1997, Ignacio Ramonet, editor majalah Le Monde Diplomatique, menulis tajuk berjudul "Melucuti Pasar". Isinya tentang tirani kekuasaan pasar finansial yang semakin mempermainkan nasib mayoritas warga dunia.

Sekadar mengingatkan, pada tahun 1971, 90 persen transaksi finansial global terkait dengan ekonomi riil dalam rupa investasi jangka panjang dan hanya 10 persen berupa spekulasi. Di awal tahun 2000, 95 persen dari 1,5 triliun dollar AS transaksi finansial global per hari berupa spekulasi, 80 persen di antaranya spekulasi dengan kecepatan mondar-mandir 1-7 hari, 40 persen darinya bergerak dengan kecepatan kurang dari dua hari, tanpa terkait ekonomi riil (New Internationalist Februari 2000; The Economist 16/6/2001).

Ramonet mengakhiri tajuknya dengan seruan bagi pembentukan asosiasi-asosiasi rakyat untuk mengoreksi tirani finansial itu. Ia mengusulkan nama ATTAC, singkatan dari Association pour la Taxe Tobin pour l’Aide aux Citoyens (Asosiasi Penerapan Pajak Tobin untuk Membantu Warga Negara).

Tidak seperti tulisan lain, tajuk Ramonet meledak. Dalam hitungan hari, ribuan surat dukungan membanjir ke kantor redaksi Le Monde Diplomatique. Pada bulan Maret 1998, dukungan bagi seruan itu tak terbendung lagi, dan pada 3 Juni 1998 ATTAC secara resmi berdiri. Ratusan asosiasi rakyat dari dalam dan luar Perancis bergabung, begitu pula banyak koran, majalah, dan jurnal progresif. Di bulan Januari 2003, ia sudah memiliki 30.000 anggota perorangan, lebih dari 200 asosiasi rakyat, serta ratusan organisasi dari negara-negara lain.

Alkisah, pada bulan Februari 2000, dua warga Brasil bertamu ke Koordinator ATTAC Bernard Cassen di Paris. Mereka adalah Oded Grajew, mantan pengusaha, dan Chico Whitaker, Sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Uskup Brasil. Keduanya baru datang dari Forum Ekonomi Dunia (FED) di Davos, Swiss, menyaksikan bagaimana masa depan dunia didikte para tuan besar finansial.

Kepada Cassen, mereka berujar, "Mengapa Le Monde Diplomatique dan ATTAC tidak mengorganisasi kekuatan progresif sebagai alternatif terhadap Davos?" Jawab Cassen, "...hal itu mesti datang dari negeri Selatan, dan Brasil adalah yang paling ideal...." Hanya dalam tiga menit kemudian, kedua tamu itu bilang, "Anda benar, mari kita bikin di Brasil."

Kedua tamu segera pulang ke Brasil dan menghubungi Wali Kota Porto Alegre, Tarso Genro, Gubernur Rio Grande do Sul, Olivio Dutra, serta organisasi-organisasi rakyat di São Paulo untuk mengibarkan agenda itu. Cassen mengusulkan nama "Forum Sosial Dunia". Itulah asal-muasal Forum Sosial Dunia (FSD) di Porto Alegre. FSD yang hari-hari ini berlangsung di Mumbay, India, bisa dikatakan sebagai bagian evolusi kisah tersebut.

Histeria bahasa

Setiap gerakan penting biasanya segera menuai histeria. Begitu pula FSD. Maka, bahasa "pro" dan "kontra" juga segera menggejala. Mereka yang melihat globalisasi hanya sebagai gejala buram segera bersikap "pro" terhadap FSD. Sebaliknya, orang seperti George Bush segera menyebut gerakan itu sebagai antiglobalisasi yang dianggap identik dengan anti-Amerika.

Di Indonesia, mereka yang memahami globalisasi hanya sebatas membaca dan memuja buku penulis ultrakanan seperti Thomas Friedman, The Lexus and the Olive Tree (1999), juga segera melihat FSD sebagai mubazir. Dan FSD mereka anggap sebagai teriakan kaum anarkis.

Para pembaca literatur globalisasi sejenis buku Friedman biasanya juga mengajukan pertanyaan absurd, "dibandingkan dengan FED, apa alternatif yang ditawarkan FSD?" Mereka lupa bahwa tata globalisasi versi FED juga bukan hasil genius, melainkan hanya produk penjelmaan insting monopolistik kekuasaan para tuan besar finansial. Artinya, globalisasi versi FED tidak membutuhkan desain genius apa pun. Ia ada seperti sekarang ini hanya lantaran para tuan besar finansial dibebaskan mewujudkan naluri-libinalnya dalam memakai kekuasaan uang untuk menentukan tata hukum, kenegaraan, finansial, kultural, sosial, bahkan cuaca akademis-intelektual seturut kepentingan mereka.

Begitu cepatnya penyempitan soal globalisasi ke dalam soal "pro" dan "anti" justru membuat problematik utama globalisasi semakin dalam tersembunyi. Dan karena itu juga tidak produktif. Dari sejarah dan evolusinya makin nyata bahwa FSD bukanlah gerakan antiglobalisasi. Ia adalah gerakan globalisasi yang tidak mengikuti agenda globalisasi FED. Dalam pandangan para penggerak FSD, globalisasi versi FED adalah globalisasi yang, meminjam ungkapan ekonom James Galbraith (putra ekonom John Galbraith), "diserahkan kepada orang- orang yang berkekuasaan dan bermentalitas bankir" (2003).

Agenda FSD adalah membuka kemungkinan terjadinya globalisasi yang mempunyai dampak jauh lebih adil bagi kesejahteraan mayoritas warga dunia dan bukan hanya bagi segelintir tuan besar finansial. Maka, dapat dikatakan, bukan globalisasi itu sendiri yang ditolak FSD, melainkan corak globalisasi yang semakin lama semakin berada dalam kendali para tuan besar finansial.

Sebagai contoh, ambillah dunia obat- obatan. Bisnis obat sedang booming, mencapai 430 miliar dollar AS di tahun 2002, melonjak 66 miliar dollar AS dari tahun 2001. Di tangan 5-10 perusahaan raksasa obat, marjin keuntungan mereka paling besar di antara semua bisnis yang ada di bawah langit, bahkan lebih besar dibandingkan dengan keuntungan bank- bank komersial yang dianggap mempunyai keuntungan sangat tinggi.

Namun, di antara 1.393 jenis obat yang dikembangkan selama periode 1975- 1999, hanya 16 jenis obat yang diperuntukkan bagi penyakit-penyakit kaum miskin (New Internationalist, November 2003). Bila Anda tidak punya uang, Anda tidak punya hak atas kesehatan! Dan tentu lalu gejala berantai yang menyertainya. Misalnya, tahun 2000 saja industri obat di AS menggunakan 92,3 juta dollar AS untuk 625 pelobi. Di antaranya untuk mendesakkan hak paten yang akan melonjakkan harga obat-obatan di negara sedang berkembang setinggi 200 persen.

Contoh semacam dengan mudah bisa diperpanjang. Karena itu, istilah "deregulasi" perlu dipakai secara hati-hati. Mengapa? Karena yang rupanya makin kencang terjadi bukan deregulasi, melainkan "re-regulasi" menurut kepentingan perusahaan-perusahaan raksasa seperti itu. Dan, di situlah rupanya kita sampai pada jantung perkara.

Jantung perkara

Dalam banyak hal bisa dikatakan, bicara globalisasi tanpa bicara rentang kekuasaan bisnis-bisnis raksasa adalah buih verbal; tanpa isi, tanpa substansi. Dan itu juga berlaku ketika kita berbicara tentang "budaya" (culture). Mungkin kita bisa mengamati bagaimana secara perlahan tapi pasti, apa yang disebut "kultur" semakin diartikan sebagai sekadar soal gaya-hidup, mode, film Hollywood, fast foods, dan semacamnya. Siapa yang sedang membawa dunia menuju proses seperti itu?

Karena itu, ketika membaca headline Kompas (17/1/2004), "Aktivis Antiglobalisasi Kecam Korporasi", saya tertegun sambil merasa ambigu. Di satu pihak, merasa khawatir bahwa FSD dipahami secara salah sebagai antiglobalisasi dan antibisnis. Istilah "antiglobalisasi" justru tidak tepat karena FSD adalah gerakan globalisasi alternatif. FSD juga tidak anti-entrepreneurship. Di lain pihak adalah rasa afirmasi bahwa dengan menunjuk soal kekuasaan korporasi sebagai jantung masalah di balik kecenderungan globalisasi dewasa ini, FSD di Mumbay telah membidik persoalan dengan lugas.

Kelugasan itu mungkin terdengar kelewat tajam. Dan ia mengisyaratkan dua agenda mendesak. Pertama, agenda yang bersifat praktis berupa usaha bagaimana menciptakan berbagai gerakan yang maju atas dasar prinsip bahwa modal (capital) dan laba (profit) diakumulasi bukan hanya bagi para pemegang saham, para pelobi, dan para manajer yang digaji kelewat tinggi, melainkan bagi kita semua.

Kedua, agenda yang bersifat konseptual siap menantang mereka yang gemar berbicara demokrasi. Bukankah demokrasi ala pemilu saja tidak cukup lagi menjelmakan aspirasi sebuah zaman yang ditandai oleh perluasan besar-besaran kekuasaan bisnis yang semakin hari semakin menentukan hidup-mati kita? Dahulu kala, demokrasi diciptakan lantaran kita punya masalah dengan konsentrasi dan penggunaan "kekuasaan" dalam masyarakat, entah ia kekuasaan pemerintah, bisnis, agama, sains, atau teknologi. Globalisasi dalam coraknya seperti sekarang ini menyediakan fakta yang begitu menantang para aktivis dan pemikir demokrasi.

Berhadapan dengan semua itu, para penggembira mungkin akan berceloteh dengan cuék seperti yang diiklankan rokok Sampoerna A Mild, "Gué berpikir, karena itu gué tambah bingung". Rupanya memang cuma sebatas itulah para kapten bisnis mendidik kita tentang etos hidup. Selebihnya, kita lebih baik belajar dari sebuah dialog menawan antara penulis Jerman, Günter Grass, dan almarhum Pierre Bourdieu pada tahun 1999: "...kita dibilang tidak punya humor, tetapi periode sejarah dewasa ini memang sama sekali tidak lucu! Tak ada apa pun yang layak membuat tertawa."

B Herry-Priyono Staf Pengajar dan Ketua Program Studi Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta; Alumnus London School of Economics

URL Source: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/20/opini/810126.htm


 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail