Soedjati Djiwandono

 

Dapatkah Agama Menunjang Persatuan Bangsa?

 
Oleh: J. Soedjati Djiwandono


Agama kelihatan telah menjadi faktor pemecah-belah. Selama setahun terakhir ini, telah terjadi banyak kasus kebringasan massal dalam masyarakat yang sering kelihatan terkaitkan dengan sentimen keagamaan.

Sebab itu, berbicara tentang peranan agama dalam pembinaan persatuan bangsa kedengaran ironis.Tetapi kerukunan dan kerjasama antar berbagai kelompok agama merupakan keharusan, kalau dengan membentuk Indonesia merdeka sebagai negara-bangsa, kita semua bertekad untuk terus hidup bersama dalam suatu masyarakat plural yang dinamis, demokratis, dan damai.

Secara konseptual, masalah kebangsaan Indonesia sebenarnya sudah selesai. Tetapi sebagai suatu cita-cita, persatuan bangsa, dan dengan demikian penghayatan wawasan kebangsaan, harus diperjuangkan terus-menerus, dan tidak dapat taken for granted.

Kini rasanya kita mengalami kemunduran dalam pemeliharaan persatuan bangsa, terutama dalam pengertian ras dan keagamaan, kalaupun dalam arti etnis dan budaya kita sudah banyak mencapai kemajuan. Yang seringkali dilupakan orang kelihatannya adalah bahwa kebangsaan Indonesia merupakan konsep politik, tidak didasarkan atas ikatan etnis, rasial, keagamaan, kultural, bahasa, atau ikatan-ikatan sektarian atau “primordial” lainnya. Bangsa Indonesia dibentuk oleh kehendak “bangsa-bangsa” dalam arti sempit (Jawa, Sunda, Minangkabau, dsb.) untuk hidup bersama dan senasib-sepenanggungan dalam suatu bangsa baru, yaitu bangsa Indonesia, sehingga Indonesia merdeka yang hendak didirikan akan merupakan negara-bangsa, dalam wilayah tanah air Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang merupakan konsensus atau kompromi antara bahasa berbagai “bangsa” dalam pengertian sempit tadi. Itulah yang dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

Pemikiran dan aspirasi politik itulah yang merupakan faktor pemersatu utama bangsa Indonesia. Kemudian, dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi negara, sebenarnya berbagai agama yang hidup dalam masyarakat Indonesia dipersatukan oleh sila Ketuhanan YME.

Implikasi konsep kebangsaan itu ialah bahwa tiada kelompok dalam Indonesia merdeka, besar atau kecil, apa pun dasar atau ikatannya, mempunyai kedudukan istimewa atau menikmati hak-hak istimewa. Semua orang dan semua kelompok mempunyai hak, kesempatan dan kewajiban atau komitmen yang sama sebagai warga negara dan berkedudukan sama (equal) di depan hukum

Apirasi politik sebagai pemersatu bangsa itu terasa kuat selama perjuangan kemerdekaan, ketika kita masih menghadapi kolonialisme Belanda sebagai musuh bersama. Tetapi daya pengikat politik itu melemah setelah kita tidak lagi menghadapi musuh bersama itu dalam bentuk kolinialisme dan memasuki tahap konsolidasi serta mengisi kemerdekaan.

Apakah musuh bersama yang akan selalu dapat mempersatukan bangsa? Musuh bersama itu terutama adalah ketidakadilan. Kita tidak dapat memelihara persatuan dan integrasi bangsa tanpa mengusahakan pemerataan atau mewujudkan keadilan. Tiada orang atau kelompok bersedia diajak bersatu atau berintegrasi jika dalam persatuan itu dia atau mereka merasa diperlakukan secara tidak adil, atau menderita sesuatu bentuk ketidakadilan seperti diskriminasi, apa pun dasarnya, yang menyangkut kepentingannya.

Sebab itu inti masalahnya adalah, bagaimana berbagai golongan agama di Indonesia dapat bekerjasama dalam perjuangan menegakkan keadilan, di samping menanggulangi masalah-masalah bersama lainnya, seperti kemiskinan, keterbelakangan dan lingkungan hidup, yang melampaui batas-batas keagamaan, etnis, rasial, bahasa ataupun budaya.

Keadilan merupakan prinsip, norma, atau sikap, yang menuntut persa­maan. Dalam pengertian ini keadilan sama dengan asas demo­krasi sebagai suatu cita-cita. Sebab itu demokrasi dan keadilan saling berkaitan, bahkan merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Demokrasi menuntut persamaan dan keadilan, sedang keadilan dalam masyarakat atau keadilan so­sial hanya dapat diwujudkan secara lebih baik dalam sistem demokrasi.

Tuntutan atas persamaan itu ialah agar hak setiap orang di­hormati dan semua manusia diperlakukan secara sama, karena semua manusia diciptakan sama di hadapan Tuhan. Ini berlaku pada kepentingan manusia dalam semua hidang kehidupan.

Seperti telah disinggung dalam tulisan terdahulu, keadilan merupakan asas atau tuntutan yang abstrak. Karena itu, secara konkrit, usaha menegakkan keadilan ditempuh terutama dengan mendobrak segala bentuk ketidakadilan, terutama dalam bidang sosial-ekonomi, yang lebih nyata kelihatan. Dengan begitu kita berjuang menegakkan keadilan sosial, wujud keadilan dalam masyarakat.

Agama dapat membantu persatuan bangsa, (1) jika umat berbagai agama mempunyai komitmen bersama pada persatuan bangsa dengan pemahaman yang sama (common) tentang konsep dan wawasan kebangsaan Indonesia dengan segala implikasinya; (2) jika umat berbagai agama mempunyai komitment bersama pada cita-cita keadilan dan kesejahteraan. Kita bersama-sama berjuang menegakkan keadilan dan menciptakan kesejahteraan umum sebagai perwujudan cinta kasih dan pengabdian kepada sesama. Pada gilirannya, hal itu merupakan penjabaran iman, cinta kasih, dan pengabdian kepada Tuhan, sekalipun melalui agama yang berbeda-beda.

Akhirnya, (3) jika umat berbagai agama dapat mengembangkan pemahaman bersama tentang kedudukan agama dalam negara Pancasila. Ini meliputi pengertian tentang UUD 1945, terutama ideologi Pancasila, sebagai sumber hukum, dan tentang kebebasan beragama serta implementasinya secara konsisten.

Mengembangkan kebersamaan dalam pengertian-pengertian itu dengan segala implikasinya yang luas merupakan masalah yang kompleks. Hal itu akan memerlukan proses dialog terus-menerus, dengan kejujuran, keterbukaan, ketekunan, kesabaran dan kehendak baik semua golongan agama. ***


 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail