Bambang Warih Kusuma

 

Horizon Demokrasi & Paket Demokrasi

 
Oleh: Bambang W. Koesoema

Page 1 of 3 | Go to page 1 2 3


Horizon Demokrasi

Pemilu 2009 ini merupakan pemilu transisi kedua dari rangkaian 16 kali pemilu yang akan membawa Indonesia menjadi negara modern dan demokratis. Sejak kemerdekaan, kita telah membuang-buang waktu. Hampir seluruh Presiden yang pernah memimpin negeri ini tidak punya kinerja (performansi) yang memadai dalam mengatur negara ini.

Seandainya Soekarno bisa bekerjasama dengan Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir, sejarah negeri ini akan lain jalannya. Setelah presiden pertama dijabat oleh Soekarno, presiden kedua Hatta, presiden ketiga Sjahrir, seperti pakem sejarah kemerdekaan Amerika Serikat, negara yang sangat memberikan inspirasi bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

Dihitung sejak jaman Soekarno (17 Agustus 1945), sebenarnya kita hanya memerlukan waktu 16 kali pemilu untuk membawa Indonesia sepadan dengan Jerman, Perancis, Jepang dan Inggris, Amerika pada tahun 1974. Namun, epigon dari ketidakmampuan kerjasama Soekarno-Hatta-Sjahrir harus kita bayar mahal sampai hari ini. Politik Soekarno terhadap Hatta dan Sjahrir berbuah membukakan pintu bagi Soeharto. Dan apa yang kita dapat daripadanya? Negeri yang terpuruk, hutang yang mencekik, sumber alam yang terkuras, serta matinya demokrasi!

Akibatnya, kita harus mulai dari permulaan lagi untuk membangun demokrasi. Dan kita juga harus mulai lagi rangkaian 16 pemilu untuk membawa Indonesia menyamai Jerman, Perancis, Jepang, Inggris, Amerika dan negara-negara maju lainnya pada kondisi sekarang ini (2004). Tetapi kita tidak boleh lari dari tanggung jawab itu. Kita akan selesaikan tugas penyelenggaraan “16 pemilu” itu.


Mengapa “16 pemilu”?

Ketika saya diundang oleh Kanselir Jerman Barat pada tahun 1975 untuk mengunjungi negerinya, saya berkesempatan berdialog dengan para pimpinan negara itu. Mereka menyampaikan hasil sebuah riset mengenai berapa lama dunia ketiga mengejar ketinggalan terhadap Jerman di tahun 1974.

Di dalam bukunya “Not much time for the Third World”, Dr. Erhardt Eppler, Menteri Negara yang mengurus bantuan untuk dunia ketiga dalam kabinet Kanselir Willy Brandt, mempresentasikan hasil riset tersebut kepada saya mengenai perlunya negara dunia ketiga menunggu hingga 1375 tahun untuk menyamai negara seperti Perancis, Jerman, Inggris, Jepang dan juga negara-negara maju lainnya di Barat pada kondisi dan situasi tahun 1974.

Di dalam presentasi tersebut dinyatakan bahwa waktu sepanjang itu tidak diperlukan untuk negeri seperti Indonesia karena kekayaan alam yang berlimpah, kondisi geografis dan tidak sama-sebangunnya tantangan yang dihadapi, serta negeri ini bisa belajar dari kesalahan Jerman sendiri. Waktu yang panjang tersebut bisa dikurangi, hingga kita hanya memerlukan 180 tahun saja. Itupun masih bisa dikurangi lagi hingga menjadi 80 tahun saja, bilamana negara kita bersedia memeluk demokrasi, sebagai bagian sistem pembangunan politik negaranya dan mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang memiliki integritas dan kualitas kepemipinan yang memadai bagi negeri seluas ini melalui sistem politik tersebut.

Dan kita tahu, 80 tahun ekuivalen dengan 16 pemilu. Dugaan saya, di dalam 16 pemilu itu akan didahului oleh dua atau tiga pemilu yang bersifat transisi dimana kita masih melakukan coba-raba mencari formula yang tepat dimana sistem pemilu yang demokratis (free and fair) itu dijalankan. Kemudian kita akan memiliki rangkaian pemilu 12 – 13 kali dengan sistem dan prosedur penyelenggaraan pemilu demokratis yang sudah baku.

Dan kita juga harus menyadari, demokrasi yang saya maksudkan adalah sebuah paket sebagaimana Melvin I. Urofsky (2001) merumuskannya. Demokrasi (universal) tersebut merupakan komponen utama pembentuk Indonesia sebagai nation yang inklusif (terbuka) – di mana setiap orang dihargai karena buah kerja, pikiran dan gagasannya, bukan karena warna kulit, agama, kekayaan, gelar ataupun status sosial yang dimilikinya. Sebagaimana ini semua tertera dalam statement dan cita-cita Abraham Lincoln; yang hingga kini terpampang di dinding Monumen dirinya yang dibangun oleh rakyat Amerika di kota Washington DC. “Pada dasarnya manusia diciptakan sama …”

Seperti di dalam cerita persilatan, perjalanan seribu lie dimulai dengan langkah pertama. Kita harus menerima kekurangan yang ada di dalam pemilu yang transisional ini. Banyak kesalahan yang telah kita buat dan ketidakmampuan kita memisahkan dan mendahulukan mana kepentingan personal, mana kepentingan politik golongan dan mana kepentingan nasional, sehingga kita seperti terperangkap dalam paradigma tujuan menghalalkan cara. Dan kalau kita menemukan begitu banyak kekurangan dalam Pemilu yang transisional ini, hendaklah kita berjiwa besar untuk menyempurnakannya pada Pemilu berikutnya.

Pengalaman berharga dalam Pemilu 2004 ini menunjukkan bahwa rakyat jauh lebih siap berdemokrasi daripada pemimpinnya yang takut kehilangan kekuasaan. Kita harus meletakkan jiwa besar kita dalam visi jangka panjang untuk melaksanakan rangkaian pemilu berikutnya di dalam membawa negara ini sepadan dengan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jepang, Jerman dan negara-negara maju lainnya.

Saya percaya negeri ini masih punya harapan, seperti saya melihat begitu banyak anak-anak muda berprestasi seperti sekarang ini

Tulisan ini diambil dari arsip Bambang W. Koesoema

Page 1 of 3 | Go to page 1 2 3

 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail