Membentuk Jiwa Demokrasi pada Anak

 
Oleh: D Emilia Triyanti


 
Sejak awal kita memasuki era reformasi, kata “demokrasi” menjadi buah bibir masyarakat dan nyaring terdengar setiap hari di gedung-gedung parlemen, di jalan-jalan, juga di seminar-seminar. Tetapi apakah dengan serta-merta demokrasi lantas menjelma dan mendarah daging dalam kehidupan bangsa Indonesia?
Demokrasi di negeri ini ternyata masih lebih banyak sebagai retorika untuk kepentingan politis dan kekuasaan belaka. Di berbagai tempat di Tanah Air, di samping pemaksaan kehendak, banyak kelompok masyarakat yang secara mencolok main hakim sendiri.
Kata “demokrasi” memang gampang diucapkan, tetapi di sana sini terjadi penyimpangan. Hal itu lantaran perilaku demokratis membutuhkan prasyarat, kerelaan mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain.
Soal pembentukan sikap mental ini memang tidak bisa dikebut dalam satu malam. Prosesnya panjang, sedangkan kita umumnya kurang sabar. Oleh karena itu, sikap demokratis harus dipupuk sejak anak usia dini.
Di sini peranan keluarga menjadi kunci utama keberhasilan. Ibu dan ayah harus selalu mau mendengarkan pendapat anak, dan sekaligus menyadari bahwa tidaklah selalu pendapat orang dewasa yang harus menang.
Kondisi ideal itu sayangnya tidak selalu dapat ditemui. Di Indonesia banyak orangtua yang suka memaksakan kehendak pada anak. Yang dikhawatirkan, harus menurut apa pun kata orang tua bisa menghambat kemandirian anak. Katakanlah, kalau sudah SMTP, kita tanya dia mau makan apa. Mungkin dia bilang terserah deh. Atau kita tanya dia mau beli mainan seperti apa? Oleh karena itu, sejak kecil anak hendaknya dibiasakan berdialog. Kalau kemudian pendapatnya berharga, harus kita hargai.
Selain itu, menumbuhkan sikap demokratis bisa lewat pendidikan kedisiplinan. Acap kali anak melakukan kesalahan, lalu tiba-tiba dia dibentak atau dipukul, padahal anak belum tahu maksudnya.
Mungkin secara kultural kita biasa melakukannya, padahal itu harus dihindari. Kalaupun awalnya terasa sulit, makin lama harus makin berkurang. Pengalaman malah mengajarkan bahwa sehabis mencubit anak, orang tua suka menyesal.

Mengisi Waktu Bersama
Agar anak mau diajak berbicara tentang banyak hal, orang tua tentunya perlu mencurahkan waktu yang berkualitas bersama anak. Bisa melalui, misalnya, kegiatan memancing atau berolah raga bersama, sebuah sarana di mana kita bisa saling bertukar ide dengan anak.
Namun, sedekat apa pun hubungan yang kita bangun, orang tua tidak selalu bisa meluluskan permintaan anak. Masalahnya, bagaimana ketidaksetujuan ini ditangkap anak secara baik, dan tidak terjebak dalam sikap otoriter orang tua. Di sini terus terang garisnya abu-abu. Kita tidak bisa tegas-tegas amat.
Soalnya, anak balita kalau menginginkan sesuatu tidak bisa kita ajak bicara secara logis 100 persen. Tetapi paling tidak, kesempatan itu sudah ada. Maka begitu para orang tua memutuskan sesuatu yang menurut mereka paling baik, pada awalnya anak pasti ada rasa tidak enak.
Tetapi kalau itu sering dilakukan, anak akan mulai berpikir orang-tuanya tentu punya alasan. Pertimbangkan itu, kendati tidak 100 persen logis buat dia, tetapi dia tahu maksudnya bahwa paling tidak hal itu tidak jahat. Yang lebih penting adalah anak akhirnya tahu bahwa orang tuanya tidak menutup komunikasi.
Para orang tua masa kini perlu pemahaman tentang perbedaan pola asuh tradisional dengan pola asuh zaman modern. Tempo dulu anak-anak diasuh dalam pola komunalistik. Untuk mengantisipasi pesatnya perkembangan sosial diperlukan pembaruan pola asuh di lingkungan keluarga yang dinilai kurang demokratis dan tidak antisipatif terhadap berbagai perubahan.
Untuk itu, kebijakan yang diambil Gerakan PKK yang mencoba mengajarkan pola asuh anak secara khusus kepada para ibu di seluruh Indonesia melalui paket yang bertajuk “Pola Asuh Anak dalam Keluarga” patut didukung semua pihak.
Penyuluhan pola asuh anak melalui kegiatan simulasi ini dimaksudkan guna membantu meningkatkan pengetahuan para ibu dalam upaya mengasuh anak, terutama bagi ibu yang sarat dengan kegiatan di luar rumah. Komunikasi dalam keluarga yang demokratis akan berhasil, bila masing-masing anggotanya berinteraksi dalam suasana dialogis.
Salah satu nilai demokrasi yang harus ditanamkan pada anak sejak usia dini adalah keterbukaan. Keterbukaan menjadi salah satu cara terbaik dalam mendidik anak.

Pola Komunikasi Baru
Menurut sosiolog Sarjono Jatiman, dalam kehidupan keluarga modern dan demokratis, dituntut adanya pola komunikasi baru sebagai sarana interaksi antara orang tua dan anak. Setiap keluarga dapat memanfaatkan situasi yang unik, baik di meja makan, ketika menonton televisi, atau suasana lain yang bisa dikembangkan, agar terjadi komunikasi dua arah yang menyenangkan antara anggota keluarga.
Iklim dialogis dan keterbukaan di lingkungan keluarga bisa menumbuhkan anak-anak untuk berkomunikasi. Mereka terlatih untuk bisa menerima dan mendengarkan orang lain.
Kondisi ini harus didukung dengan kesiapan orang tua untuk menerima koreksi dari anak. Misalnya, jika anak mulai menunjukkan sikap protes, seharusnya jangan diartikan anak kurang ajar atau menentang orang tua, melainkan merupakan ekspresi keinginannya untuk diperhatikan atau dihargai.
Sebab itu, orang tua yang demokratis perlu mendengarkan keluhan anak dan menghargai pendapatnya. Keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, harus dimulai dari keluarga. Ibu dan ayah perlu menghindari sikap otoriter. Bila seorang anak dibesarkan dalam keluarga yang otoriter, kemungkinan dia tidak cukup berani bertanya dan berpendapat.
Sekolah juga memiliki peluang untuk mendorong anak berani mengemukakan pendapat. Itu terpulang pada kurikulum dan cara mengajarnya.
Namun, ada kecenderungan spontanitas untuk berkreasi belum berkembang karena para guru dibebani harus begini dan begitu. Sistem pengajaran di Indonesia, paling tidak menurut Melani Budianta, dari Universitas Indonesia, bahkan cenderung mengarahkan pada penguasaan teori dengan cara menghafal. Otak kiri dan otak kanan padahal harus berkembang secara seimbang.
Anak seharusnya tidak hanya disuruh belajar dan menghafal, tetapi juga dirangsang kreativitasnya agar mampu menemukan sesuatu. Sementara itu, target pengajaran kita masih bertumpu pada penyampaian materi. Tentang bagaimana cara belajar dan memecahkan persoalan, justru terabaikan. Tidak membuka lebar komunikasi dialogis, keterbukaan, penalaran kritis dan berekspresi, maka sistem pengajaran tersebut dapat menghambat tumbuhnya jiwa demokratis anak didik.

URL Source: http://sinarharapan.co.id/berita/0607/05/opi01.html

D Emilia Triyanti
Penulis adalah alumnus Universitas Negeri Padang, bertugas di Depdiknas.

  Keterangan Artikel  
  Sumber: Sinar Harapan    
  Tanggal:   06 Jul 06    
  Catatan:      
     
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail