Aliran diskreasi dan peran penting UKM

 
Oleh: Muhamad Dahlan


 
Saya teringat perdebatan antara Milton Friedman dan John M Keyness mengenai penyebab dan solusi Great Depression di Amerika Serikat pada 1930-1933. Friedman percaya bahwa depresi besar terjadi akibat jumlah uang beredar seri x414 turun dari US$25,8 miliar pada 1930 menjadi US$19,9 miliar pada 1933.

Penurunan jumlah ini menekan tingkat harga sampai 25%. Solusinya, jumlah uang beredar ditambah, maka terjadi penggandaan dan tercipta pertumbuhan. Friedman merekomendasikan otoritas moneter menjadi satu-satunya instrumen yang mampu mempercepat perbaikan perekonomian. Aliran ini disebut rules.

Keyness berpendapat lain. Dia melihat depresi besar terjadi karena kesalahan politisi yang terlalu menitikberatkan kebijakan pada penyeimbangan anggaran daripada mempertahankan produksi dan kesempatan kerja pada tingkat alamiah.

Pengurangan anggaran belanja secara besar-besaran dan dilakukan dalam waktu cepat, ditambah meningkatkan pajak di tengah-tengah pengangguran yang tinggi, merupakan kesalahan manajemen makro yang paling mendasar.

Solusinya, bangun infrastruktur dalam skala besar, maka kreasi ekonomi kecil menengah tercipta dan pengangguran dengan sendirinya terkurangi. Aliran ini disebut discretion (diskreasi). Yang menjadi pertanyaan, apa relevansi depresi di Amerika Serikat dengan ekonomi kita sekarang? Bagaimana dengan pengurangan pengangguran ke depan?

Data statistik menunjukkan angka pengangguran tinggi, diperkirakan terjadi penambahan sekitar 12,6 juta jiwa pada 2007, kemiskinan menjadi penduduk diperkirakan mencapai 45,7 juta jiwa, suku bunga rendah (9,25%) dan pengeluaran pemerintah sedikit terhambat (sisa anggaran 15% pada akhir 2006). Risiko ke depan adalah pertumbuhan tetap di bawah 6% dengan tingkat pengangguran dalam tiga tahun ke depan tidak akan bergeser dari 10%.

Fenomena ekonomi memang tidak cukup dilihat dari hubungan statistik belaka. Semua proses penyebab yang terkait dengan pertumbuhan harus diamati secara detail. Pertumbuhan yang tinggi tidak hanya dilihat dari satu faktor belaka. Kemajuan muncul karena kebijakan yang mendukung seperti persaingan usaha, pemanfaatan sumber daya nasional untuk pasar internasional, insentif bagi masyarakat umum untuk melakukan usaha dan industrialisasi dari yang berskala kecil hingga besar. Demikian juga dengan kemunduran. Kemunduran ekonomi juga dibentuk oleh sejarah kebijakan yang salah dan tidak realistis.

Paling fleksibel

Usaha kecil dan menengah (UKM) memang tidak bisa dilihat sebelah mata. Seperti kita ketahui, UKM adalah sektor yang paling fleksibel dalam menyerap tenaga kerja secara cepat dan alamiah dibandingkan sektor lain. Jumlah yang banyak serta sebaran yang merata, menjadikan sektor ini tidak hanya mampu menciptakan pertumbuhan namun sekaligus mengurangi disparitas antardaerah.

UKM juga cukup fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi dengan pasang surut arah permintaan pasar. Sektor ini juga cukup terdiversifikasi dan memberikan kontribusi penting dalam pada pembentukan PDB nasional (50% lebih) dan ekspor (10%).

Pendek kata, UKM adalah mesin raksasa penggerak roda perekonomian bangsa. Meminjam pendapat keyness, shock pada sektor UKM melalui intervensi pemerintah, amatlah penting. Tanpa intervensi, pertumbuhannya melambat. Pada titik ini hampir semua ekonom membenarkan. Yang menjadi pertanyaan intervensi apa yang harus dibangun?

Pertama, membangun infrastruktur lunak dengan menciptakan pasar input secara sengaja yang dijalankan oleh banyak UKM. Output dari pasar ini ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan input di pasar industri besar. Seperti pasar hasil kepala sawit untuk kebutuhan pasar Pabrik Kelapa Sawit.

Kedua, merealisasikan visi pembangunan yaitu mengurangi jumlah pengangguran. Target penurunan pengangguran pada angka dibawah 5,1 % dari angkatan kerja dalam jangka tiga tahun (sampai dengan 2009) hampir mustahil direalisasikan. Mengapa? Karena visi penurunan angka pengangguran ini hanya terkonsentrasi pada pertumbuhan jumlah industri besar yang berasal dari PMA dan PMDN.

Di sisi lain, kacamata investor dunia sedang mengarah pada China di mana hampir seluruh kebutuhan usaha (baik perangkat lunak dan keras) telah tersedia dan terbangun secara baik. Artinya konsentrasi untuk mencapai visi 'menekan jumlah pengangguran' yang paling realistis adalah mendorong secara besar-besaran pembangunan pada UKM.

Ketiga, dalam kondisi bunga rendah, perbankan harus kreatif menjembatani kebutuhan modal pada pasar input tersebut. Kreativitas perbankan ini akan sangat membantu pengembangan UKM ke depan seperti yang dilakukan peraih nobel perdamaian 2006, Muhamad Yunus dengan Grameen Bank, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Bangladesh.

Di tangan legislatif

Friedman percaya bahwa mekanisme pasar tanpa intervensi pemerintah adalah jalan terbaik dalam membangun ekonomi. Pada mekanisme pasar, yang paling terpenting adalah tersedianya bangunan institusi yang kuat. Pemerintah hanya berfungsi sebagai koordinator dalam menggerakkan roda perekonomian.

Yang menjadi pertanyaan adalah aturan main seperti apa yang harus dijalankan pemerintah? Pertama tekanan legislatif pada pemerintah harus mengarah pada satu visi pembangunan yang mekanistik dan terukur secara konseptual. Artinya, tekanan tidak hanya mampu memutuskan mata rantai action leg, namun juga mengarah pada pembentukan struktur pasar yang kokoh.

Saya percaya pada pemikiran Solow dan Romer yang menekankan pembangunan ekonomi digerakkan melalui tiga kekuatan yaitu stock of capital, tenaga kerja, dan teknologi lokal.

Karena ketiga varian tersebut masih lemah maka sangat tidak realistis jika tekanan pada kebijakan fiskal diharapkan mampu melahirkan sektor usaha yang berukuran besar, dalam jumlah banyak dan dikerjakan dalam jangka pendek.

Artinya, tekanan harus mengarah pada penciptaan usaha yang berskala kecil dan menengah yang kuat. Karena kontribusi sektor ini pada pasar dunia hanya 10%, maka tekanan juga dapat diarahkan pada penciptaan mata rantai usaha antara besar dan kecil menengah melalui aturan investasi yaitu 'mitra besar-kecil'.

Ingat, salah satu penyebab terjadinya great depression adalah kesalahan politisi dalam melihat arah pembangunan yang terfokus pada akumulasi anggaran pada kondisi ekonomi lesu. Lalu, apa yang menjadi nilai yang dominan bagi pembangunan, discretion atau rules? Jawabannya, kedua-duanya.

URL Source: http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL

Muhamad Dahlan
Peneliti Soegeng Sarjadi Syndicate, mahasiswa Program Pascasarjana MPKP-FEUI

  Keterangan Artikel  
  Sumber: Bisnis Indonesia    
  Tanggal:   19 Jan 07    
  Catatan:      
     
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail