Survei Pilkada DKI Jakarta

 
Oleh: Saiful Mujani


 
Kemarin ada seorang teman, pemimpin redaksi sebuah televisi di Jakarta, bertanya bagaimana hasil survei Pilkada DKI Jakarta terakhir.Beberapa waktu sebelumnya dua kelompok media di Jakarta harus mengeluarkan biaya sendiri bekerja sama dengan lembaga survei untuk menyurvei sikap pemilih menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Belum lagi lembaga survei yang melekat pada kontestan pilkada.Survei terus!


Bisa Salah

Survei sikap pemilih memang bisa salah karena ia pada dasarnya merupakan kegiatan ilmu, bukan doktrin agama. Dan harus dicari sebab dari kesalahan itu.Tapi reaksi negatif terhadap hasil survei putaran pertama sebelumnya mungkin membuat lembaga-lembaga survei itu mengkerut untuk memublikasikan hasilnya menjelang Pilkada DKI putaran kedua ini.

Sorotan negatif itu tidak sepenuhnya keliru karena ada di antara lembaga survei itu yang membuat klaim-klaim kepada publik secara tidak sah. Mereka mengklaim Pilkada DKI putaran pertama dulu akan berlangsung satu putaran. Padahal klaim ini sebenarnya tidak didasarkan atas fakta yang solid.

Tidak ada satu pun lembaga yang merilis survei waktu itu menemukan ada pasangan calon mendapatkan dukungan di atas 50% secara signifikan. Apakah survei-survei menjelang pilkada putaran pertama salah semua karena hasilnya berbeda dengan hasil quick count pada hari H? Mungkin saja.Peluang untuk salah itu secara statistik ada karena survei-survei tersebut bertumpu pada tingkat kepercayaan 95%.

Artinya, ada peluang sekitar 5 kali salah dari seratus kali survei dalam menaksir pilihan pemilih. Di samping itu, ada juga kesalahan lain seperti kurang ketat dalam menerapkan metodologi, dan kurang disiplin dalam melakukan wawancara. Tapi kalau dua terakhir ini yang terjadi, kesalahan itu kemungkinan tidak akan seragam untuk semua lembaga survei karena dua masalah tersebut bisa sangat bervariasi antara satu lembaga dengan lembaga survei lainnya.

Dinamika Pemilih

Tapi kalau hasil survei yang dilakukan, katakanlah seminggu sebelum hari H, dan hasilnya berbeda dari hasil di hari H yang bisa diketahui dengan cepat lewat quick count, misalnya, apakah hasil survei seminggu sebelumnya itu salah? Mungkin saja salah, tapi mungkin juga tidak. Kalau terjadi perubahan sikap pemilih setelah survei itu, dan itu sah adanya, apakah hasil survei seminggu sebelumnya itu harus sama dengan hasil hari H?

Jelas tidak boleh. Dalam kasus survei pilkada menjelang hari H putaran pertama semua lembaga survei dalam waktu relatif berdekatan menemukan Fauzi Bowo unggul atas Jokowi.Temuan ini bukan hanya oleh lembaga survei yang menjadi tim sukses Fauzi, tapi juga oleh lembaga survei tim sukses pesaingnya.

Karena semua lembaga survei hasilnya beda dengan hasil quick count oleh lembaga yang sama pada hari H, maka sulit menilai bahwa survei itu semua salah.Apalagi kalau kita perhatikan penilaian salah itu pertama-tama didasarkan atas hasil quick count oleh lembaga yang sama, dan dengan dasar metodologi yang sama. Kalau survei sebelum hari H itu salah secara metodologi, maka quick count juga harusnya salah secara metodologi. Metodologi survei sebelum pilkada hari H juga digunakan dalam exit poll pada hari H.

Pemilih yang keluar dari TPS dipilih secara saintifik dan ditanya siapa yang dipilih di kotak suara tadi. Hasilnya ternyata tidak jauh berbeda dengan hasil quick count tersebut. Bila metodologi survei sebelum hari H salah, maka hasil exit poll juga salah, yakni berbeda secara berarti dengan hasil quick count.

Jangkauan Mobilisasi

Karena itu yang terjadi, sesungguhnya lebih mungkin karena adanya perubahan yang cepat pada sikap pemilih. Perubahan cepat ini dimungkinkan dalam konteks pilkada kota seperti DKI Jakarta. Wilayahnya relatif kecil, transportasi dan alat komunikasi cukup bagus.Sumber daya manusia melimpah. Sumber dana juga banyak. Semua ini memungkinkan untuk mobilisasi secara cepat.

Daya jangkau mobilisasi pemilih seperti itu juga terlihat dalam beberapa pilkada di wilayah perkotaan di TanahAir. Sering ditemukan perbedaan hasil survei sebelum hari H dan hasil penghitungan di hari H. Gejala seperti ini tidak banyak ditemukan dalam pilkada kabupaten atau provinsi yang sulit dijangkau karena wilayahnya luas, dan sarana untuk mobilisasi pemilih terbatas. Gejala seperti ini juga terlihat dalam survei nasional menjelang pemilu atau pilpres.

Karena wilayah yang sangat luas dan sarana untuk mobilisasi terbatas,sikap pemilih relatif lebih stabil dalam pemilu dan pilpres tersebut. Dalam tiga kali pilpres, tiga kali pemilihan umum nasional, survei-survei yang saya lakukan beberapa bulan menjelang hari H hasilnya tidak banyak berbeda dengan hasil quick count pada hari H. Kita sudah tahu SBY akan terpilih menjadi presiden beberapa bulan menjelang hari H Pilpres 2004 maupun 2009.

Kita sudah tahu Golkar akan menang Pemilu 2004, dan Demokrat menang Pemilu 2009, juga beberapa bulan sebelum hari H pemilu. Ini menunjukkan pemilih yang besar dengan medan yang berat untuk dijangkau mobilisasi membuat sikap pemilih secara umum lebih stabil. Untuk Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, kita dihadapkan dengan dinamika sikap pemilih karena pemilih mudah dijangkau untuk dimobilisasi dalam waktu cepat.

Bila sekarang kedua pasangan ini terlihat seimbang menurut hasil survei beberapa hari terakhir ini, belum tentu hasilnya akan seperti itu pada hari H. Bila salah satu pasangan lebih unggul dalam mobilisasi tersebut maka hasilnya akan berubah, dan ia yang akan unggul.

Perubahan sikap pemilih karena mobilisasi ini harusnya dapat kita pantau terus tiap hari dengan survei hingga hari H.Tapi belum ada yang mampu melakukan intensitas survei seperti ini.

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/526532/

 SAIFUL MUJANI
Pendiri Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC)

  Keterangan Artikel  
  Sumber: Koran Sindo    
  Tanggal:   14 Sep 12    
  Catatan:      
     
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail