Manfaat Ideologi Ekonomi

 
Oleh: Adair Turner


 

John Maynard Keynes pernah mengatakan bahwa “gagasan-gagasan yang dilahirkan para ekonom dan filsuf politik, baik ketika mereka benar maupun ketika mereka salah, lebih ampuh daripada yang dipahami banyak orang Para praktisi yang meyakini dia bebas dari pengaruh intelektualisme biasanya adalah budak bentuk-bentuk ekonomi yang sudah usang.”

Tapi saya kira bahaya yang lebih besar berada di lembaga-lembaga tempat para praktisi ini bekerja--sebagai pembuat kebijakan pada bank-bank sentral, badan-badan regulator, pemerintahan, dan badan-badan yang mengelola risiko pada lembaga-lembaga keuangan. Mereka cenderung tertarik pada versi pemikiran ekonom-ekonom yang disederhanakan dan yang dominan saat ini

Setidaknya dalam ranah ekonomi keuangan, versi equilibrium theory (teori keseimbangan) yang vulgar sangat dominan pada tahun-tahun sebelum terjadinya krisis keuangan saat ini. Teori ini menggambarkan market completion(penuntasan pasar) sebagai penyembuh semua masalah, dan kecanggihan matematika yang dibebaskan dari pemahaman filosofis, sebagai kunci manajemen risiko yang efektif. Lembaga-lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF), dalam Global Financial Stability Reviews (GFSR) yang diterbitkannya, berbicara dengan penuh keyakinan tentang self-equilibrating system (sistem yang mampu menyeimbangkan dirinya sendiri).

Demikianlah, hanya 18 bulan sebelum terjadinya krisis, GFSR yang dikeluarkan Juli 2006 dengan tegas mencatat: “Makin meningkatnya pengakuan bahwa tersebarnya risiko kredit pada kelompok investor yang lebih luas dan lebih beragam … telah membantu meningkatkan ketahanan sistem perbankan dan sistem keuangan. Meningkatnya ketahanan ini bisa dilihat pada sedikitnya gagal bank dan lebih konsistennya pengadaan kredit.” Penuntasan pasar, dengan kata lain, merupakan kunci pencapaian sistem yang lebih aman.

Manajer risiko di banyak bank pun menerapkan teknik analisis probabilitas pada penghitungan “value at risk”, tanpa bertanya apakah contoh-contoh dari peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar membawa kesimpulan-kesimpulan yang kuat akan probabilitas di masa depan. Dan pada badan-badan regulator seperti Financial Services Authority Inggris (yang saya ketuai), keyakinan bahwa inovasi keuangan dan peningkatan likuiditas pasar itu penting, karena ia menuntaskan pasar dan meningkatkan price discovery (penemuan harga yang wajar), bukan hanya dapat diterima, tapi juga merupakan bagian dari DNA kelembagaan.

Sistem pemikiran ini sudah tentu tidak mengabaikan kemungkinan intervensi pasar. Tapi ia menentukan asumsi seseorang mengenai sifat dan batas intervensi.

Misalnya, regulasi yang dibuat untuk melindungi konsumen retail bisa, kadang-kadang, tepat adanya: persyaratan mengenai pengungkapan informasi bisa membantu mengatasi asimetri informasi antara bisnis dan konsumen. Begitu juga regulasi dan penegakannya yang dibuat untuk mencegah penyalahgunaan bisa dibenarkan karena aparat-aparat yang rasional bisa juga serakah, korup, atau bahkan berbuat kriminal. Regulasi untuk meningkatkan transparansi pasar bukan hanya dapat diterima, tapi merupakan titik sentral doktrin, karena transparansi, seperti inovasi keuangan, diyakini bakal menuntaskan pasar dan mendorong peningkatan likuiditas dan penemuan harga yang wajar.

Tapi sistem pemikiran yang diyakini para regulator dan pengambil kebijakan di pusat-pusat kelembagaan yang paling maju di bidang keuangan pun cenderung mengabaikan kemungkinan profit seeking (upaya mencari keuntungan) yang rasional oleh pemain pasar yang profesional, juga akan mendorong perilaku rent-seeking (upaya mendapatkan rente) serta ketidakstabilan keuangan. Bukan membawa kebaikan untuk masyarakat--walaupun sementara ekonom telah menunjukkan dengan jelas mengapa hal semacam itu bisa terjadi.

Kearifan konvensional para pembuat kebijakan mencerminkan keyakinan bahwa hanya intervensi yang bertujuan mengidentifikasi dan mengoreksi ketidaksempurnaan tertentu yang merintangi tercapainya keseimbangan pasar yang bisa dibenarkan. Transparansi penting untuk mengurangi ongkos informasi, tapi bukan tugas ideologi untuk mengenali ketidaksempurnaan informasi yang mungkin sudah begitu mendalam, sehingga tidak bisa dikoreksi dan bentuk-bentuk transaksi, betapapun transparannya, mungkin tidak berguna bagi masyarakat.

Sebenarnya, ekonom Columbia University, Jagdish Bhagwati, dalam sebuah esai yang dimuat dalam jurnal Foreign Affairs dengan judul “Capital Myth”, berbicara mengenai pemikiran “Wall Street/Treasury” yang menyatukan kepentingan dengan ideologi. Bhagwati mengatakan bahwa penyatuan kepentingan dengan ideologi ini berperan dalam mengubah liberalisasi capital flow jangka pendek menjadi article of faith (rukun keyakinan), kendati terdapat alasan teoretis yang kuat untuk berhati-hati serta kecilnya bukti empiris manfaat keyakinan ini. Baik kepentingan maupun ideologi berperan dalam memenangkan prinsip deregulasi keuangan dan penuntasan pasar.

Kepentingan-kepentingan murni--yang dinyatakan melalui kekuatan lobi--jelas penting pada beberapa langkah deregulasi di AS, yang sistem politik dan undang-undang yang mengatur dana kampanye pemilihan sangat kondusif bagi kekuatan-kekuatan lobi tertentu di negeri itu.

Kepentingan dan ideologi sering berinteraksi dengan halus sehingga sulit dipisahkan. Pengaruh kepentingan ini dicapai melalui ideologi yang diterima secara tidak sadar. Sektor keuangan mendominasi perekrutan ekonom-ekonom profesional di bidang non-akademik. Karena mereka juga manusia, maka mereka cenderung secara implisit mendukung--atau setidak-tidaknya tidak menunjukkan tantangan yang agresif terhadap--kearifan konvensional yang melayani kepentingan industri, bagaimanapun independennya mereka dalam memberikan penilaian terhadap persoalan-persoalan ekonomi.

Teori efisiensi pasar dan penuntasan pasar dapat membantu meyakinkan kembali eksekutif-eksekutif lembaga-lembaga keuangan bahwa mereka, dalam bentuk-bentuk yang halus, sudah berbuat baik walaupun sepintas lalu seolah-olah apa yang dilakukan itu tampaknya tidak lebih daripada spekulasi. Badan-badan regulator perlu merekrut pakar-pakar industri untuk meregulasi dengan efektif, tapi pakar industri nyaris terikat mengikuti asumsi yang secara implisit dianut industri. Memahami proses sosial dan budaya ini sendiri bisa dijadikan fokus penelitian baru. Tapi kita jangan meremehkan peran penting ideologi. Lembaga-lembaga yang canggih--seperti lembaga-lembaga yang membentuk sistem pengambilan kebijakan dan regulasi--sulit dikelola tanpa gagasan yang mendalam dan konsisten agar kredibel, tapi cukup sederhana sebagai basis yang dapat terlaksana dalam pengambilan keputusan dari hari ke hari.

Falsafah bimbingan semacam ini paling ampuh ketika ia memberikan jawaban-jawaban yang jelas. Dan falsafah yang menegaskan bahwa inovasi keuangan, penuntasan pasar, dan peningkatan likuiditas pasar itu selalu membawa manfaat merupakan basis yang jelas bagi dilakukannya desentralisasi regulasi.

Di sinilah, saya kira, letaknya tantangan terbesar di masa depan. Sementara kearifan pra-krisis yang disederhanakan itu tampaknya memberikan jawaban yang bertumpu pada sistem dan metodologi intelektual yang menyatu, pemikiran ekonomi yang benar-benar baik mesti melahirkan wawasan berdasarkan pendekatan analitis yang beragam. Marilah kita berharap semoga para praktisi memetik pelajaran dari semua ini. *

Hak cipta: Project Syndicate, 2010.

URL Source: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/07/26/Opini/krn.20100726.20

Adair Turner
Chairman Financial Services Authority dan anggota Majelis Tinggi Inggris

  Keterangan Artikel  
  Sumber: Koran Tempo    
  Tanggal:   27 Jul 10    
  Catatan:      
     
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail