Penumbuh Nasionalisme

 
Oleh: Daoed Joesoef


Belakangan ini merebak keluhan tentang lunturnya nasionalisme di kalangan generasi muda.

Berhubung nasionalisme umumnya ditanggapi sebagai kesediaan mengabdi sepenuhnya kepada Tanah Air, sentimen patriotik, usaha, dan prinsip kebangsaan, generasi tua mengkhawatirkan masa depan negara-bangsa. Siapa lagi yang bisa diandalkan kalau bukan pemuda?

Memang benar nasionalisme terkait erat dengan keberadaan Tanah Air, kelahiran bangsa (nation), dan kepemudaan. Namun, sentimen kebangsaan dari bangsa-bangsa tidak pernah persis sama. Maka, bila bersamaan dengan kekhawatiran kita bertekad mengobarkan kembali nasionalisme Indonesia, kita perlu lebih dahulu bertindak bagai kimiawan ide yang menguraikan unsur-unsur konstitusional pokok dari nasionalisme kita. Kita perlu mendapat gambaran: apa yang mendasari pola timbul-tenggelamnya nasionalisme? Apa penyebab perubahan dari corak ideologi yang terkait dengan hal tersebut? Apa yang menentukan kaum intelektual muda menumbuhkembangkan nasionalisme?

Panggilan sejarah: dulu dan kini

Mikroskop historis segera menampilkan unsur penumbuh nasionalisme berupa mitos ”Mozesik” dan ”Yozefik”. Mitos Mozesik mengandung ide tentang suatu tujuan, bahkan sebuah misi suci. Sejak awal abad XIX, di Indonesia, ia berupa drama dari para intelektual muda. Bagai diilhami kisah Mozes (Nabi Musa) yang terpanggil untuk membebaskan kaumnya dari perbudakan Pharao (Firaun), digerakkan oleh selfless idealism, tanpa pamrih, mereka ambil tanggung jawab atas perjuangan membebaskan orang Indonesia dari penjajahan Belanda.

Di samping mitos Mozesik, ada mitos Yosefik, mengenai si bungsu dari 12 anak Yakob. Ia yang tecerdas, yang mampu melihat ”lebih jauh” daripada abang- abangnya dan karena itu dibenci oleh mereka. Jika mitos Mozesik mitos pemberontakan melawan Pharao, menentang kemapanan dan ketakadilan, mitos Yozefik menjelaskan natur dari misi historis—pemunculan suatu elite baru atau sebuah kelas pilihan—dalam dunia politik.

Ide nasionalisme yang terkait langsung dengan ide kemerdekaan nasional menyentuh pemuda kita sebagai suatu panggilan romantika perjuangan dan sebuah sense of mission. Hidup adalah sebuah misi. Memang belum menyentuh semua pemuda yang ada, baru segelintir kecil di antara yang terpelajar. Dengan jumlah relatif sedikit mereka berani memenuhi misi sucinya. Mereka menyebut dirinya ”Jawa muda”, ”Sumatera muda”, ”Minahasa muda”, ”Ambon muda”, ”Muslimin muda” dan lain-lain, untuk membedakan diri dari golongan tua sesuku atau seiman.

Selaku ”golongan muda” mereka menyatakan diri sensitif terhadap imbauan ”jiwa baru”, responsif terhadap tantangan ”zaman baru”. Dengan pola pikir baru tersebut, pada 28 Oktober 1928 mereka mengadakan sumpah berbangsa satu, bertanah air satu, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan. Dan, yang serba satu ini adalah ”Indonesia”.

Kedua mitos tadi kiranya tak lagi ”menyetrum” sanubari muda-mudi kita dewasa ini. Bagi mereka, kemerdekaan nasional adalah taken for granted. Nasionalisme yang berperan begitu menentukan dalam keberhasilan mengusir penjajah dari bumi Ibu Pertiwi merupakan kisah tempo doeloe. Concern hidup mereka sungguh lain. Mereka meniru sikap elite penguasa yang juga begitu. Misi hidup ini, bagi mereka adalah mencari kesenangan individual, kedudukan formal, kekuasaan politik, dan uang. Titik!

Ideologi bisa dan pernah berperan besar dalam menumbuhkembangkan nasionalisme. Ideologi adalah sistem ide-ide yang membentuk doktrin politik, sosial, ekonomi, budaya, militer, apa saja, yang mengilhami kebijakan sesuatu pemerintah, rezim, partai. Selaku ramuan ide-ide yang sekaligus empiris dan evaluatif terhadap keadaan dan sistem kehidupan dalam arti luas, ia mencetuskan suatu drama yang merupakan makna dari proses historis, bersamaan dengan petunjuknya tentang peran dari elite pemimpin/penguasa, kelas pilihan dan kulminasi historis.

Bung Karno telah menempa ideologi seperti itu, dinamakan ”Pancasila”, kemudian dibaptis menjadi filosofi dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berhubung ideologi Pancasila diakui penting sekali bagi eksistensi Indonesia, setiap pemerintah yang berkuasa mengharuskannya jadi bahan pelajaran di semua lembaga pendidikan nasional.

Namun, Pancasila belum bisa dikualifikasi secara akademis sebagai filosofi yang worthy by the name. Ia baru berupa satuan- satuan ide independen. Cemerlang bagai butir-butir mutiara yang lepas, belum terjalin berupa kalung, belum matang sebagai subyek kajian universiter. Karena itu, pembelajaran formalnya bertahan secara efektif hanya di SD. Di sini ia masih pantas diperlakukan sebagai hafalan belaka, berhubung kontradiksi yang tersembunyi di antara sesama satuan pokok pikiran belum memerlukan kupasan yang kritis.

Maka, di tingkat universitas, Pancasila hanya jadi obyek ejekan kalau diperlakukan sebagai hafalan. Ia kalah bersaing dengan marxisme, sosialisme, komunisme sebagai ideologi, yang secara logis berkembang dari filosofi Hegelian dan Kantian yang berpenalaran begitu komprehensif. Juga dengan kapitalisme/liberalisme yang lahir dari filosofi natural law yang begitu solid. Pembahasan filosofis dari ideologi tak bakal menyembunyikan kontradiksi yang dikandung setiap ”isme” karena—berkat uraian filosofis yang holistik—kontradiksi menjadi retak yang membawa ukir, bukan retak yang mengakibatkan belah. Mahasiswa dilatih menjadi intelektual yang terdorong selalu mencari kriteriologi baru untuk bisa membedakan antara ”pemahaman” dan ”justifikasi”.

Revolusi dan nasionalisme

Revolusi pasti menggelorakan nasionalisme. Antara kedua hal tersebut memang terjadi simbiosis mutualisme. Kini ada anggapan revolusi sudah selesai. Semua usaha kolektif demi mewujudkan aspirasi revolusi diyakini sebagai urusan iptek belaka. Penalaran dan semangat keilmuan yang katanya bersifat universal cukup menanganinya.

Lagu-lagu perjuangan yang diciptakan dan dinyanyikan oleh para pejuang kemerdekaan dulu tak terdengar lebih syahdu di telinga muda-mudi sekarang daripada lagu-lagu pop yang mendunia. Kalau mereka mengenal beberapa di antaranya, itu karena sewaktu sekolah dulu pernah diajarkan sebagai lagu wajib.

Tempat bersejarah yang berpotensi besar untuk, paling sedikit, membuat bara nasionalisme tetap berapi, juga sudah musnah. Ia dirobohkan. Ironisnya oleh Bung Karno sendiri, tokoh yang selalu mengingatkan kita: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tempat itu adalah rumah berhalaman luas di Jl Proklamasi (dulu Jl Pegangsaan Timur), tempat tinggal Bung Karno sendiri, tempat dia—didampingi Bung Hatta—membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di tempat inilah saharusnya upacara peringatan Hari Kemerdekaan pada setiap 17 Agustus diadakan. Inilah tempat sakral generasi muda mengheningkan cipta bagi arwah para pahlawan, melantunkan himne nasional: ”Indonesia Tanah Airku... di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku... Bangunlah jiwanya... Hiduplah Indonesia Raya!”

Pada pagi 17 Agustus baru-baru ini saya membawa cucu, anak lelaki kelas II SMP, ke tempat bersejarah tersebut. Melalui aneka kisah perjuangan Tentara Pelajar yang saya ceritakan, saya harap pemikirannya yang masih sederhana bisa menangkap pesan heroik bahwa orang yang pantas merdeka hanyalah dia yang setiap hari berusaha menguasainya lagi.

Kelihatannya tak bakal ada upacara apa pun di sini. Ada kesibukan beberapa orang membongkar tarup dan memindahkan kursi ke truk. Rupanya malam sebelumnya ada pegelaran musik untuk umum. Ketika cucu saya bertanya mengapa ’rumah proklamasi’ dibongkar dan oleh siapa, saya tidak segera menjawab. Jawaban saya dahului dengan kata-kata, ”... sebagai orang senang melukis, eyang menyesal mengapa rumah itu dulu tak eyang abadikan dalam buku sketsa. Padahal, ketika dulu masih kuliah di UI, Salemba, eyang berkali-kali tidur siang di ruang tengah rumah itu....”



Daoed Joesoef
Alumnus Unversité Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne, Perancis

 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail