Globalisasi dan Sinergi Pengentasan Kaum Lemah

 
Oleh: Tom Saptaatmaja


Hingga kini topik globalisasi dan nasionalisme, masih terus banyak disorot.Terlebih manakala kita memikirkan berbagai kontrak pertambangan yang dalam praktinya ternyata lebih menguntungkan banyak perusahaan asing dan merugikan Indonesia, khususnya semakin terpinggirnya para penduduk asli serta alam kita yang rusak.


Dalam globalisasi ekonomi misalnya, kita melihat makin meningkatnya perdaganganbebas dan meningkatnya hubungan antara pelaku ekonomi di berbagai negara.Konyolnya dalam konteks ini, negara-negara berkembangan atau kecil kerap hanya dijadikan pecundang, sementara kekayaan negaranegara berkembang dan kecil itu diusung untuk memperkaya negara-negara kaya saja. Akibatnya timbul kesenjangan yang luar biasa.Negaranegara kaya makin kaya sementara negara-negara miskin, termasuk negeri kita makin miskin.

Menurut Birdsell (1998) pada abad ke-18,penduduk dunia kategori miskin mencapai 74% dan mereka hanya menikmati 44% GDP dunia. Sebaliknya 26% penduduk dunia yang kaya menguasai 56%. Pada abad ke-20 dan ke-21, kondisinya justru bertambah buruk karena penduduk dunia yang miskin makin bertambah jadi 80%,sementara mereka hanya menikmati 20% GDP dunia.Sebaliknya 20% penduduk dunia yang kaya menikmati 80%-nya. Ada ironi dan paradoks yang pahit.

Menurut mendiang Romo YB Mangunwijaya bila suatu tata ekonomi dunia tanpa henti memperkaya mereka yang sudah teramat kaya, dengan semakin mempermiskin sekian miliar manusia yang sudah teramat miskin,pastilah setiap orang yang berakal sehat dan ia tidak perlu harus ahli ekonomi, dapat menduga bahwa jelas ada sesuatu yang tak beres dalam tata ekonomi semacam itu.

Globalisasi dan Kenaikan Yesus

Lalu apa makna dan relevansi dari peringatan atau perayaan Kenaikan Yesus Kristus dikaitkan dengan semua ini? Harus diakui, kalangan agama (termasuk Kristen) di negeri ini sering lebih memfokuskan pada masalah-masalah yang sifatnya spiritual (rohani), sehingga isu-isu seperti globalisasi kesannya kurang digarap atau disentuh.

Karena itu Kenaikan Yesus ke surga, bisa dijadikan momentum menyadari betapa pentingnya masalah ini. Kalau kita membaca Injil,Yesus naik ke surga, setelah 33 tahun hidup di dunia.Itu berarti bahwa agama seharusnya tidak hanya sibuk mengurusi hal-hal yang terkait surga saja. Jadi jangan terus menatap ke langit seperti dilakukan para murid Yesus ketika menyaksikan gurunya naik ke surga,tetapi juga harus kembali menatap ke dunia. Kadang ditemukan dua ekstrem, orang hanya memikirkan masalah rohani (agama saja) di satu sisi, sementara di sisi lain ada orang yang terlalu duniawi.

Akibatnya penghayatan keagamaan sering dipisahkan dari persoalan hidup.Padahal kalau kita peduli pada ajaran kasihNya, kita juga harus memiliki kasih juga khususnya bagi yang menderita, dieksploitasi dan ditindas dalam arus deras globalisasi dewasa ini. Namun dalam masalah ini, rasanya perlu koalisi dengan semua agama. Tidak bisa masalah ini dihadapi sendirian saja. Perlu sinergi antar umat beragama. Apalagi yang dihadapai kekuatan globalisasi yang terlalu tangguh. Dengan sinergi ini, ke depan diharapkan agama tidak hanya akan sibuk rebutan klaim kebenaran, rebutan pengikut,ribut tempat ibadah, tapi juga punya kepedulian nyata bagi kemanusiaan.

Jika sinergi itu tercipta, agama akan bisa menghadirkan surga bagi umat manusia di dunia ini. Sebab selama ini, karena terlalu terfokus pada masalah dogma atau akidah, agama menjadi lupa pada misi kemanusiannya dan lebih sibuk berkonflik dan kurang menghadirkan berkah Tuhan bagi kemanusiaan.Akibatnya ajaran-ajaran mulia dari agama menjadi sesuatu yang asing dan tidak menyentuh realitas kehidupan.

Kasih dan Keadilan Bagi Yang Lemah

Sudah saatnya kita yang kuat,(dari agama apapun) bisa membantu kaum lemah. Bagi para elite penguasa dan pengusaha, mari kita turun dari “menara gading” kehidupan kita dan turun di lorong-lorong kota dan desa untuk melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi.Pasti,kita akan melihat misalnya kesejahteraan sebagian besar warga negri ini masih jauh dari cita-cita para pendiri bangsa.

Apalagi berbicara tentang kemiskinan,di negri ini sekitar separuh dari 237 juta orang Indonesia yang hidup dengan kurang dari USD1 per hari. Sementara di sisi lain, banyak sekali tempat ibadah megah dibangun serta mal-mal menjadi tempat bagi legitimasi konsumerisme dan kerakusan sebagian golongan. Yesus datang mewartakan Injil sekaligus menghadirkan surga di bumi lewat teladan kasih dan keadilanNya, dan semua ini pertama-tema diperuntukkan bagi kaum lemah.

Sayangnya, entah dari mana asal muasalnya, perjuangan untuk menegakkan keadilan bagi si lemah,akhirnya kurang mendapatkan aksentuasi. Karena yang ditekankan justru aspek ritualisme dan peribadatan di dalam lingkup tempat ibadah saja. Nabi Amos juga mengungkapkan bahwa liturgi atau acara peribadatan yang semarak, sambil mengabaikan keadilan bagi si miskin sungguh tidak dikehendaki oleh Allah.”Jauhkanlah dari pada Ku (Allah), keramaian-keraimaian nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:21-24).

Ketika keadilan itu tegak dan kasih sungguh mendominasi, boleh jadi saat itulah surga terjadi atau terwujud. Jadi surga juga menuntut perubahan hidup yang radikal, yakni mampu menegakkan hukum kasih sekaligus keadilan. Mengasihi Sang Pencipta, tidak hanya menuntut kesalehan personal, tapi juga sikap berkeadilan bagi sesama. Selama masih ada yang menjadi korban dari sistem atau kebijakan yang tidak adil sebagaimana para korban globalisasasi, berarti tata nilai surgawi yang ditawarkan Yesus, seperti nilai-nilai kasih dan keadilan, belum berjalan.

Meski demikian,mari tanpa lelah kita terus mencoba bersinergi menghadirkan surga,sehingga kaum lemah dan siapapun yang jadi korban globalisasi bisa dientas dari kondisi dunia yang penuh gombalisasi menuju ke surga dunia yang menghargai dan memanusiakan martabat serta menyejahterkan mereka.

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/495357/44/



TOM SAPTAATMAJA

Teolog

 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail