Karena Air Adalah Hak Asasi Manusia

 
Oleh: Firdaus Cahyadi


Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa setiap 22 Maret kita memperingati Hari Air Sedunia. Untuk pertama kalinya Hari Air Sedunia diperingati pada 1993. Sebegitu pentingkah sehingga perlu ada Hari Air? World Water Development Report pada 2010 melaporkan sekitar 4.000 anak meninggal setiap hari akibat air yang tercemar. Sementara itu, sebuah lembaga nonprofit asal Amerika Serikat, Water.org, mengemukakan bahwa saat ini satu dari delapan anak di dunia tidak bisa menikmati air minum yang aman bagi kesehatan.

Untuk 2011, Hari Air Sedunia mengusung tema "Water for Cities, Responding to the Urban Challenge" atau dalam bahasa Indonesia menjadi "Air Perkotaan dan Tantangannya". Sebuah tema yang menarik terlebih bila dikaitkan dengan kondisi air di beberapa perkotaan di Indonesia.

Di Jakarta, misalnya, krisis air masih tetap menjadi persoalan yang belum bisa dipecahkan. Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat, selama periode Januari-Mei 2008, di Jakarta Pusat terjadi kelebihan penyedotan air tanah oleh pelanggan rumah mewah dan niaga dari sumur bor hingga sekitar 929.076 meter kubik (m3), sedangkan kelebihan penyedotan dengan sumur pantek mencapai 136.454 m3.

Kelebihan juga terjadi di Jakarta Timur. Penyedotan dengan sumur bor hingga 1.924.377 m3 dan sumur pantek 253.577 m3. Penyedotan diduga dilakukan pelaku industri, pemilik pabrik di Kawasan Industri Pulogadung. Kelebihan penyedotan dengan sumur bor terbesar terjadi di wilayah Jakarta Selatan, yaitu sekitar 1.718.600 m3 dan dengan sumur pantek 428.100 m3. Kelebihan penyedotan di Jakarta Barat dengan sumur bor sekitar 760.834 m3 dan dengan sumur pantek 96.361 m3. Di Jakarta Utara, kelebihan penyedotan air tanah dengan sumur bor sekitar 602.358 m3 dan dengan sumur pantek 62.115 m3.

Air hujan yang seharusnya bisa mengisi air tanah yang telah diambil ternyata justru menjadi air larian (run off). Banyaknya air larian dalam setiap musim hujan di Jakarta juga yang menjadi penyebab banjir. Data BPLHD DKI Jakarta menyebutkan, dari 2.000 juta per meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian yang berpotensi menimbulkan banjir di perkotaan. Menyusutnya ruang terbuka hijau dan maraknya pembangunan kawasan komersial menjadi pemicu meningkatnya air larian di Jakarta.

Bukan hanya di Jakarta, krisis air bersih juga mengancam Kota Surabaya. Pada 2013, kota terbesar kedua setelah Jakarta itu diperkirakan akan mengalami krisis air bersih. Penyebabnya perusahaan air minum di Surabaya tak mampu mengimbangi naiknya permintaan pemasangan baru di kota itu.

Di sisi lain, air kali (sungai) di Kota Surabaya juga telah mengalami penurunan kualitas. Menurut catatan Ecoton, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap isu air, menyebutkan kualitas air kali Surabaya termasuk dalam kategori C. Artinya, terjadi penurunan kualitas air. Padahal seharusnya air kali Surabaya termasuk dalam kategori kualitas B. Pencemaran badan air kali Surabaya itu diperkirakan akan berdampak pada bahan baku air PDAM.

Terkontaminasinya kali Surabaya oleh limbah bahan berbahaya dan beracun juga telah mengakibatkan kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) tercemar logam berat. Penelitian Daud Anwar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga pada 1996 menunjukkan darah dari sampel warga Kenjeran/Sukolilo mengandung cuprum (Cu) 2.511,07 ppb dan merkuri (Hg) 2,48 ppb. Kandungan cuprum dalam darah warga Kenjeran ini telah melampaui ambang batas yang ditetapkan WHO/FAO, yaitu 800-1.200 ppb.

Sementara itu, hanya berjarak beberapa kilometer dari Kota Surabaya, tepatnya di Porong, Sidoarjo, warga juga tengah mengalami krisis air bersih. Semburan lumpur Lapindo yang terjadi pada 2006 menyebabkan pencemaran air di kawasan itu. Berdasarkan uji kualitas air lumpur pada Juni dan Juli 2007 oleh BAPEDAL Provinsi Jawa Timur menunjukkan hasil melebihi ketentuan baku mutu sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 42 Tahun 1996 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan minyak dan gas serta panas bumi untuk parameter fisika dan kimia.

kandungan endapan dalam lumpur atau total dissolved solid dan total suspended solid menunjukkan angka sangat tinggi. Untuk parameter kimia, kandungan biological oxygen demand dan chemical oxygen demand juga menunjukkan angka tinggi, dengan parameter tersebut merupakan parameter organik atau indikator umum terjadinya pencemaran air. Kandungan senyawa phenol juga diketahui sangat tinggi.

Bagaimana dengan kondisi air di luar Jawa? Apakah di luar Jawa juga terjadi krisis air bersih? Kondisinya ternyata tidak jauh berbeda dengan di Jawa. Di Kalimantan juga terjadi krisis air bersih. Penyebabnya adalah maraknya aktivitas pertambangan di kawasan itu.

Pada 2009, Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur mencatat setidaknya sembilan aliran sungai kecil telah hilang akibat kegiatan pertambangan. Sementara itu, Sungai Mahakam dengan panjang 900 kilometer dan melayani warga di Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda juga mengalami penurunan kualitas, mengandung zat-zat beracun berbahaya, keruh, dan mengalami pendangkalan.

Kondisi di empat wilayah di atas (Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Kalimantan) cukup sebagai contoh bahwa krisis air bersih juga telah melanda negeri ini. Padahal air adalah bagian dari hak asasi manusia. Tanpa air bersih, seorang manusia tidak bisa hidup. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi hak warga atas air bersih itu. Hari Air Sedunia tahun ini harus menjadi momentum bagi pemerintah menjalankan kewajibannya guna menjamin ketersediaan air bersih bagi warganya.

URL Source: http://korantempo.com/korantempo/koran/2011/03/22/Opini/index.html

Firdaus Cahyadi
KNOWLEDGE MANAGER FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT, ONEWORLD-INDONESIA

 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail